Nova Andrian Wicaksono

D14100043

Laskar 25

Sindiran guruku

Cerita ini bermula ketika saya baru memasuki sekolah menengah pertama. Waktu itu ada beberapa mata pelajaran yang asing bagiku, salah satunya bahasa inggris. Memang di sd ku sudah diajarkan bahasa inggris, namun pelajaran tersebut baru dimulai di kelas 6. jadi sayapun belum tau banyak dan bahasa inggris masih menjadi mata pelajaran yang asing bagiku.

Ketika mata pelajaran saya dapatkan di sekolah menengah pertama, tentu saja pelajaran tersebut diajarkan lebih bagus baik dari segi kualitas maupun kuantitas.dan sayapun mengalami dan menemui kesulitan yang cukup besar dalam menghadapi mata pelajaran tersebut. Setiap kali diadakan pelatihan, saya tidak bisa berbuat banyak hanya beberapa soal saja saya bisa, bahka terkadang tidak bisa sama sekali. Kondisi ini diperparah kondisi kelas.waktu itu saya masuk di kelas 1a yang merupakan kelas unggulan yang berisikan anak-anak tercerdas dalam angkatan kami.aku semakin minder dan takut ketika mengikuti pelajaran bahasa inggris tersebut.karena mereka sangat aktif saat mengikuti pelajaran tersebut,selain itu guru bahasa inggris ku waktu itu cukup tegas dan disiplin.sebenarnya cara mengajarnya mengasyikan dan kreatif, namun beliau terkadang suka menyindir muridnya yang tidak paham. Sindiran itu beberapa kali kurasakan ditujukan padaku, sehingga sempat membuatku down. Dan benar saja ketika  waktu terima rapot untuk yang pertama kalinya di sekolah menengah pertama nilai terendahku adalah nilai bahasa inggris yang hanya mendapatkan nilai 6.

Akupun ingin bangkit dari keterpurukanku. Ketika ingat sindiran-sindiran dari guruku aku menjadi lebih bersemangat untuk meningkatkan kemampuan bahasa inggrisku.aku ingin buktikan kepada beliau kalau aku sebenarnya bisa.

Akhirnya di semester 2 aku berusaha mati-matian untuk mengejar ketertinggalanku, aku belajar dari teman-temanku. teman-teman yang aku anggap pintar dalam pelajaran tersebut sering aku tanyai dan kuminta dia untuk mengajariku. Sedikit demi sedikit aku mulai paham tentang grammer yang tadinya merupakan permasalahan utamaku. Kosakataku pun bertambah,ketika kami disuruh untuk mengerjakan soal-soal, aku mulai bisa bahkan aku mulai berani untuk maju kedepan mengerjakan soal latihan. Aku mejadi lebih bersemangat ketika mengikuti pelajaran tersebut.

Waktu pengambilan rapot pun datang,benar saja sesuai dugaanku nilai bahasa inggrisku meningkat.semangatku untuk belajar bahasa inggrispun berlanjut kkelas 2. waktu itu guru bahasa inggrisku tetap.beliaupun mulai akrab denganku karena aku menjadi lebih aktif di kelas. dan juga beliaulah yang mengamati perubahan kemampuanku dalam bahasa inggris dari yang tadinya tidak bisa apa-apa menjadi lebih baik. Kemampuan bahasa inggrisku pun terus berkembang dari yang tadinya mata pelajaran dengan nilai terendah hingga sekarang menjadi mata pelajaran yang sangat au sukai. Ternyata memang tidak ada yang tidak mungkin,asalkan kita mau bekerja keras dan rajin berdoa.

Nova Andrian Wicaksono

D14100043

Laskar 25

Dari ITB Hingga STAN

Cerita ini adalah cerita tentang perjalanan prestasi temanku dari yang tadinya biasa-biasa saja menjadi siswa yang superior. Dia bernama ayub, kami kenal  karena ketika kami kelas 1 SMP kami menghuni kelas yang sama. Menurutku dia sisa yang biasa-biasa saja tidak ada yang spesial bahkan namanyapun terkadang tercantum dalam daftar nama siswa yang mengikuti remidial. Dan sesuai dugaanku, ketika terima rapot yang pertama kali nilaiku lebih baik darinya. Dan begitu juga di semester 2.

Di kelas 2 aku tidak sekelas denganya,kamipun jarang bertemu,namun ketika waktu temrima rapot itu datang lagi. Lagi-lagi aku tidak mendengar namanya masuk 5 besar dikelasnya.di kelas 3 aku tidak sekelas denganya lagi, di kelas 3 inipun prestasinya tidak begitu cemerlang,dia tidak masuk 5 besar lagi. Hingga waktu terus berjalan dan tibalah waktu ujian nasional.

Setelah sebulan menunggu akhirnya hasil ujianpun keluar. Waktu itu aku masuk dalam 10 siswa dengan hasil ujian terbaik di sekolah kami. Aku tidak melihat namanya masuk dalam daftar tersebut. Kamipun melanjutkan  pendidikan kami. Kamipun bersekolah di sekolah yang sama lagi, namun kami tidak pernah sekelas. Aku jarang mendengar info tentangnya. Hingga waktu penerimaan rapot tiba, kami tidak dapat langsung mengetahui hasil rangking, karena masih diproses oleh BK. Ketika waktu  liburan usai hasil rangkingpun sudah keluar. Ternyata aku menempati urutan  pararel ke-23. sementara dia  menempati peringkat ratusan.

Ketika akan naik ke kelas 2 ada program penjurusan. Aku masuk ke ipa, diapun masuk ke ipa. Namun lagi-lagi kami tidak sekelas, namun kelasnya berada di sebelah kelasku. Betapa  terkejutnya aku, ketika prestasiku turun akibat kesibukanku di organisasi aku sering mendengar namanya karena dia mendapat nilai biologi tertinggi sejurusan ipa. Ketika waktu terima rapot datang lagi betapa terkejutnya aku ketika mendengar dia menempati peringkat 4 di kelasnya. Karena kecerdasanya dalam biologi ia mengikuti lomba di tingkat kabupaten, dia mendapat juara. Namun di tingkat provinsi dia belum berhasil.

Kamipun naik ke kelas 3, di kelas 3 semua siswa bersemangat karena akan menghadapi ujian nasional. Di semester 1 dia masih masuk 5 besar, dan betapa terkejtnya diriu ketika dia menjadi wisudawan terbaik di kelasnya.sebelum lulus dia sudah diterima di IT TELKOM namun dia tetap mengikuti tes SNMPTN. Dia memilih jurusan teknik elektro ITB yang persainganya sangat ketat. Namun dia berhasil menembusnya, dia menjadi kebanggaan sekolahku karena sudah lama tidak ada siswa sekolah kami yang berhasil diterima di ITB. Sebelum pengumuman snmptn tenyata dia juga mengikuti seleksi masuk sekolah tinggi akutansi negara. Waktu itu dia sudah melakukan registrasi di ITB, betapa kagumnya diriku ketika dia juga diterima di STAN. Akhirnya dia lebih memilih STAN.